Surabaya - Anda perokok berat dan susah menghentikan kebiasan yang menyebabkan serangan jantung dan impotensi ini. Jangan khawatir, Anda bisa berhenti merokok hanya dengan waktu 5-25 menit.
Jika Anda berhasil berhenti merokok itu berarti dukungan diberlakukannya Perda Rokok oleh Pemkot Surabaya. Lalu bagaiman cara berhenti merokok ?
Biasanya seseorang harus mempunyai keinginan kuat atau sugesti untuk berhenti merokok. Kebiasaan merokok disebabkan 18 titik saraf di wajah dan tubuh bagian atas yang tersumbat atau tidak lancar. Hal ini yang dapat menyebabkan perokok merasa enak.
"Yang paling penting adalah harus mempunyai keinginan kuat baru kemudian menjalani terapi totok," Direktur Logos Institute, Syarif Thayib di sela-sela acara Terapi Berhenti Merokok di Laboratorium Klinik Pramita, Jalan HR Muhammad Surabaya, Minggu (1/11/2009).
Menurut Syarif, perokok berat juga disebabkan akibat faktor psikis dan emosi yang mempengaruhi. Dalam prakteknya, para perokok berat awalnya disuruh merokok seperti biasanya. Kemudian dilakukan tipping selama 5 menit hingga 25 menit.
"Nantinya akan kita selaraskan sistem energi tubuh. Sehingga setelah dilakukan tipping sistem energi tidak terganggu," imbuhnya.
Sementara ke-18 titik yang akan ditipping diantaranya kepala, ujung alis, bawah mata, bawah hidung dan bawah ketiak. Kemudian para perokok ini akan kembali disuruh merokok lagi dan akan merasakan rasa yang aneh setelah merokok.
"Tapi ada satu titik khusus bagi perokok berat yakni dilakukan tipping di bawah mata. Ini akan membuat rasa rokok menjadi aneh," pungkasnya.
Sementara dari 50 peserta, salah satu orang yang ditipping merokok, Zainul Arifin mengaku setelah ditipping, rasanya berbeda seperti biasanya. Rokok yang biasa dihisap terasa pahit dan kepalanya pusing. Padahal sudah 6 tahun pria lajang ini menjadi perokok berat.
"Rasanya pahit, kepala pusing setelah menjalani terapi. Dan saya akan berhenti seterusnya kalau tahui rasanya seperti ini," ujarnya
(ze/fat)
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
BERITA_wongANteng
SEO
Miskinnya Budaya Menulis Dosen
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas dalam kurun waktu empat tahun terakhir ini telah membiayai 5.383 kegiatan penelitian melalui hibah bersaing, hibah fundamental, dan berbagai hibah lainnya. Dijanjikan hasil penelitian itu akan diterbitkan dalam jurnal terakreditasi dan forum internasional. Namun janji tersebut jarang terpenuhi, kalaupun ada publikasi hanya dua persen setiap tahun (Rifai, 2009).
UNGKAPAN Prof Mien A Rifai itu memberikan kesan betapa miskin sumbangsih para ilmuwan dan pandit Indonesia dalam menambah khasanah pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni melalui artikel ilmiah. Yang menjadi pertanyaan kita, apakah ini kodrat karya ilmiah dosen/peneliti di Indonesia? Atau memang dosen kita miskin dalam budaya menulis?
Kenyataan ini bercerita banyak untuk menjelaskan pelbagai kejanggalan yang kerapkali tersaksikan dalam kehidupan kecendekiaan bangsa kita sehari-hari. Kiranya perlu dipikirkan bagaimana mengatasi dan membangkitkan keterpurukan kerja intelektual dosen dalam menulis artikel ilmiah.
Ini problem klasik yang juga tak gampang untuk dipecahkan, di mana notabene dosen dan kesehariannya berkutat dalam kubangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan untuk menulis artikel ilmiah.
Mempersoalkan kodrat artikel ilmiah dan miskinnya budaya menulis dosen adalah sisi gelap dunia pendidikan tinggi kita. Cekaknya kemampuan menulis artikel ilmiah para dosen lebih banyak disebabkan faktor internal dengan 1001 macam alasan sebagai pembantahannya. Tak cukup ruang dan waktu untuk membahas ribuan alasan yang biasa dijadikan pembenaran disini.
Akar Masalah Akar masalah utama keterpurukan kerja intelektual dosen dalam menulis artikel ilmiah sangat bertumpu pada dua hal. Pertama, rendahnya budaya membaca artikel jurnal ilmiah. Hal ini tercermin dari tingkat keberaksaraan informasi atau information literacy masyarakat Indonesia yang masih menduduki peringkat kelima dari bawah dunia.
Menurunnya minat baca disebabkan oleh besarnya daya tarik ’’magnet’’ tontonan media elektronik, yang pada akhirnya membuat kemauan mencari informasi baru tidak berkembang.
Secara tidak langsung, dampaknya terlihat para ilmuwan menjadi tak punya rangsangan untuk mengembangkan pola pikir alternatif secara konseptual, seleluasanya. Keinginan berprakarsa tidak tertantang, bahkan mungkin termatikan.
Bayangkan, berapa banyak artikel jurnal ilmiah yang dibaca seorang dosen dalam sebulan, seminggu atau sehari? Umumnya dosen lebih banyak membedah buku teks daripada jurnal ilmiah dalam proses pembelajaran. Itu pun kalau buku teksnya tidak usang.
Padahal bila ditinjau dari segi perkembangan keilmuan, jurnal ilmiah lebih variatif, pembahasan lebih luas dan dalam, serta up to date atau kekinian.
Artikel jurnal ilmiah sangat besar delta sumbangannya dalam perluasan khasanah proses pembelajaran dan pemahaman keilmuan dosen sesuai kepakarannya.
Kedua, kurangnya latihan menulis artikel ilmiah.
Latihan menulis membutuhkan praktik langsung dan terus belajar dari pengalaman. Tanpa ada budaya menulis, keilmuan seseorang tidak pernah akan diakui atau dikenal oleh dunia akademik dan ilmu pengetahuan.
Sebagai contoh, hadiah Nobel hanya diberikan kepada ilmuwan dan pandit yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya. Penelitian tanpa publikasi adalah omong kosong, karena ilmu pengetahuan tidak akan berkembang.†
Ilmuwan terkemuka Isaac Newton pun pernah mengatakan, temuan-temuannya tak bisa berdiri tanpa ada orang-orang terdahulu yang telah membangun peradaban dengan menulis.
Sebenarnya pihak universitas sudah mencermati permasalahan budaya menulis ini, yang mana rata-rata publikasi dosen sangat kecil, baik per semester maupun per tahun. Perguruan tinggi selalu meningkatkan dengan mengadakan pelatihan penulisan artikel ilmiah.
Namun api semangat menulis sering muncul hanya saat melakukan kegiatan pelatihan dan beban kenaikan pangkat saja. Setelah itu, semangat menulis pun padam. Pelatihan menulis akhirnya hanya jatuh untuk kredit poin saja.
Budaya Belajar Suatu kenistaan apabila dosen yang senantiasa menyuruh mahasiswanya untuk senantiasa terus belajar agar mumpuni di bidangnya, namun dia sendiri tidak melakukannya.
Budaya belajar dosen yang mencakup membaca dan lebih penting lagi menulis artikel ilmiah hingga kini belum menjadi tanggung jawab moral, hak, dan kewajibannya.
Ia juga belum menjadi tuntutan kode etik sebagai dosen atau ilmuwan terhadap masyarakatnya, disiplin ilmunya, profesi ilmiahnya, sejawat dan kliennya, pemangku amanat kepentingan (stakeholders), maupun terhadap lingkungan hidupnya.
Dosen di Indonesia masih sangat beruntung, karena ungkapan publish or perish (terbitkan atau minggirlah) tidak menjadi ketentuan yuridis seperti di Amerika Serikat.
Bayangkan kalau ungkapan ini diterapkan, tinggal berapa dosen di Indonesia?
Untuk memulai meningkatkan budaya menulis, tidak lain harus menggiatkan budaya membaca. Kegiatan ini merupakan faktor kunci dalam menulis. Ilmuwan besar pun tidak dapat berbuat banyak apabila tidak membaca berbagai macam literatur sehubungan dengan materi yang ditulisnya.
Kegiatan membaca tidak hanya sekadar penguasaan informasi saja, namun memeroleh penguasaan sarana menemukan masalah, dan melatih pisau analisis yang tajam dari berbagai sudut pandang, serta gaya bahasa kepenulisan yang informatif.
Budaya menulis sesungguhnya juga output atau hasil dari membaca.
Membaca adalah input (masukan) kognitif dan afektif (pemikiran dan perasaan) yang merangsang otak untuk berpikir.
Makin banyak membaca, seorang dosen otomatis bergerak untuk menuliskan pemikiran yang muncul dari hasil input membacanya. Namun budaya belajar bagi dosen tidak dapat dipaksakan, semuanya berpulang kepada tanggung jawab moral dosen masing-masing.
Aneka penghargaan dari Dikti akan karya ilmiah yang telah dilakukan dan dipublikasikan seorang dosen, pada dasarnya hanya merupakan wahana agar budaya menulis terus membahana dan berjejak di perguruan tinggi.
Harapan besar di balik kemampuan dosen dalam menulis artikel ilmiah adalah memperkokoh eksistensi lembaga yang dinaunginya, baik dalam peningkatan akreditasi program studi, universitas dan pengakuan internasional. (32)
—Taufik Budhi Pramono, staf pengajar Budidaya Perairan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
UNGKAPAN Prof Mien A Rifai itu memberikan kesan betapa miskin sumbangsih para ilmuwan dan pandit Indonesia dalam menambah khasanah pengetahuan, ilmu, teknologi, dan seni melalui artikel ilmiah. Yang menjadi pertanyaan kita, apakah ini kodrat karya ilmiah dosen/peneliti di Indonesia? Atau memang dosen kita miskin dalam budaya menulis?
Kenyataan ini bercerita banyak untuk menjelaskan pelbagai kejanggalan yang kerapkali tersaksikan dalam kehidupan kecendekiaan bangsa kita sehari-hari. Kiranya perlu dipikirkan bagaimana mengatasi dan membangkitkan keterpurukan kerja intelektual dosen dalam menulis artikel ilmiah.
Ini problem klasik yang juga tak gampang untuk dipecahkan, di mana notabene dosen dan kesehariannya berkutat dalam kubangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan untuk menulis artikel ilmiah.
Mempersoalkan kodrat artikel ilmiah dan miskinnya budaya menulis dosen adalah sisi gelap dunia pendidikan tinggi kita. Cekaknya kemampuan menulis artikel ilmiah para dosen lebih banyak disebabkan faktor internal dengan 1001 macam alasan sebagai pembantahannya. Tak cukup ruang dan waktu untuk membahas ribuan alasan yang biasa dijadikan pembenaran disini.
Akar Masalah Akar masalah utama keterpurukan kerja intelektual dosen dalam menulis artikel ilmiah sangat bertumpu pada dua hal. Pertama, rendahnya budaya membaca artikel jurnal ilmiah. Hal ini tercermin dari tingkat keberaksaraan informasi atau information literacy masyarakat Indonesia yang masih menduduki peringkat kelima dari bawah dunia.
Menurunnya minat baca disebabkan oleh besarnya daya tarik ’’magnet’’ tontonan media elektronik, yang pada akhirnya membuat kemauan mencari informasi baru tidak berkembang.
Secara tidak langsung, dampaknya terlihat para ilmuwan menjadi tak punya rangsangan untuk mengembangkan pola pikir alternatif secara konseptual, seleluasanya. Keinginan berprakarsa tidak tertantang, bahkan mungkin termatikan.
Bayangkan, berapa banyak artikel jurnal ilmiah yang dibaca seorang dosen dalam sebulan, seminggu atau sehari? Umumnya dosen lebih banyak membedah buku teks daripada jurnal ilmiah dalam proses pembelajaran. Itu pun kalau buku teksnya tidak usang.
Padahal bila ditinjau dari segi perkembangan keilmuan, jurnal ilmiah lebih variatif, pembahasan lebih luas dan dalam, serta up to date atau kekinian.
Artikel jurnal ilmiah sangat besar delta sumbangannya dalam perluasan khasanah proses pembelajaran dan pemahaman keilmuan dosen sesuai kepakarannya.
Kedua, kurangnya latihan menulis artikel ilmiah.
Latihan menulis membutuhkan praktik langsung dan terus belajar dari pengalaman. Tanpa ada budaya menulis, keilmuan seseorang tidak pernah akan diakui atau dikenal oleh dunia akademik dan ilmu pengetahuan.
Sebagai contoh, hadiah Nobel hanya diberikan kepada ilmuwan dan pandit yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya. Penelitian tanpa publikasi adalah omong kosong, karena ilmu pengetahuan tidak akan berkembang.†
Ilmuwan terkemuka Isaac Newton pun pernah mengatakan, temuan-temuannya tak bisa berdiri tanpa ada orang-orang terdahulu yang telah membangun peradaban dengan menulis.
Sebenarnya pihak universitas sudah mencermati permasalahan budaya menulis ini, yang mana rata-rata publikasi dosen sangat kecil, baik per semester maupun per tahun. Perguruan tinggi selalu meningkatkan dengan mengadakan pelatihan penulisan artikel ilmiah.
Namun api semangat menulis sering muncul hanya saat melakukan kegiatan pelatihan dan beban kenaikan pangkat saja. Setelah itu, semangat menulis pun padam. Pelatihan menulis akhirnya hanya jatuh untuk kredit poin saja.
Budaya Belajar Suatu kenistaan apabila dosen yang senantiasa menyuruh mahasiswanya untuk senantiasa terus belajar agar mumpuni di bidangnya, namun dia sendiri tidak melakukannya.
Budaya belajar dosen yang mencakup membaca dan lebih penting lagi menulis artikel ilmiah hingga kini belum menjadi tanggung jawab moral, hak, dan kewajibannya.
Ia juga belum menjadi tuntutan kode etik sebagai dosen atau ilmuwan terhadap masyarakatnya, disiplin ilmunya, profesi ilmiahnya, sejawat dan kliennya, pemangku amanat kepentingan (stakeholders), maupun terhadap lingkungan hidupnya.
Dosen di Indonesia masih sangat beruntung, karena ungkapan publish or perish (terbitkan atau minggirlah) tidak menjadi ketentuan yuridis seperti di Amerika Serikat.
Bayangkan kalau ungkapan ini diterapkan, tinggal berapa dosen di Indonesia?
Untuk memulai meningkatkan budaya menulis, tidak lain harus menggiatkan budaya membaca. Kegiatan ini merupakan faktor kunci dalam menulis. Ilmuwan besar pun tidak dapat berbuat banyak apabila tidak membaca berbagai macam literatur sehubungan dengan materi yang ditulisnya.
Kegiatan membaca tidak hanya sekadar penguasaan informasi saja, namun memeroleh penguasaan sarana menemukan masalah, dan melatih pisau analisis yang tajam dari berbagai sudut pandang, serta gaya bahasa kepenulisan yang informatif.
Budaya menulis sesungguhnya juga output atau hasil dari membaca.
Membaca adalah input (masukan) kognitif dan afektif (pemikiran dan perasaan) yang merangsang otak untuk berpikir.
Makin banyak membaca, seorang dosen otomatis bergerak untuk menuliskan pemikiran yang muncul dari hasil input membacanya. Namun budaya belajar bagi dosen tidak dapat dipaksakan, semuanya berpulang kepada tanggung jawab moral dosen masing-masing.
Aneka penghargaan dari Dikti akan karya ilmiah yang telah dilakukan dan dipublikasikan seorang dosen, pada dasarnya hanya merupakan wahana agar budaya menulis terus membahana dan berjejak di perguruan tinggi.
Harapan besar di balik kemampuan dosen dalam menulis artikel ilmiah adalah memperkokoh eksistensi lembaga yang dinaunginya, baik dalam peningkatan akreditasi program studi, universitas dan pengakuan internasional. (32)
—Taufik Budhi Pramono, staf pengajar Budidaya Perairan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Polisi Selidiki Kasus Soal Ujian yang Disusupi "Mak Erot"
TEMPO Interaktif, Sidoarjo - Kepala Kepolisian Resor Sidoarjo, Ajun Komisaris Besar Setija Junianta, mengatakan saat ini polisi sedang melakukan penyelidikan kasus munculnya soal ujian tidak senonoh yang dibuat tim pembuat naskah ujian Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo.
"Kasih waktu saya satu hari. Besok akan segera saya naikkan ke penyidikan," ujarnya kepada Tempo, Kamis (29/10).
Penyelidikan dilakukan sejak Selasa kemarin. Tiga orang sudah dimintai keterangan. Mereka adalah orang tua murid, satu murid sekolah dasar, dan satu orang pegawai Dinas. Hanya saja, Setija enggan menyebut detail nama ketiga orang tersebut. "Saya belum bisa bilang, kan baru penyelidikan," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo, Agoes Boedi Tjahjono, membantah pemanggilan anak buahnya. Dia mengatakan, Dinas belum pernah dipanggil Polres. Hanya saja, kata dia, jika polres memang bermaksud memanggil pegawai Dinas, dia mengaku tidak keberatan. "Saya terbuka, kalau dipanggil pasti datang," tegasnya.
Agoes mengatakan sebenarnya dua orang pembuat naskah ujian Bahasa Indonesia sudah dipanggil. Dua orang itu adalah Edi, guru sekolah dasar di Kecamatan Jabon, dan Zainul, guru sekolah dasar di Kecamatan Prambon. Edi bertugas membuat soal ujian untuk kelas IV sampai VI, sementara Zainul bertugas membuat soal untuk kelas I sampai III.
Mereka berdua merupakan guru berprestasi. "Karena beban yang berat, soal yang dibuat seperti itu," ujarnya. "Mereka khilaf, mereka tidak sadar kasusnya akan seperti itu."
Menurutnya, tim pembuat naskah sebenarnya terdiri dari 12 guru. Dua guru bertugas membuat satu soal mata pelajaran. Berdasar keterangan Edi, tim pembuat naskah sempat dipanggil Dinas untuk mengikuti rapat persiapan ujian, satu minggu jelang UTS. Edi dan Zainul ditugasi membuat naskah Bahasa Indonesia dalam tempo satu minggu.
Rupanya, kata Agoes, Edi memiliki beban keluarga yang berat. Selain harus memikirkan pembuatan naskah dengan waktu mepet, dia juga harus memikirkan persiapan pernikahan anaknya yang akan digelar pada hari yang hampir bersamaan. Karena beban pikiranya terlalu tinggi, ia mengaku khilaf karena kurang teliti saat proses pembuatan naskah tersebut.
Terkait sanksi, Kepala Dinas Pendidikan yang baru menjabat selama sepuluh hari itu mengaku kebingungan dengan sanksi yang akan diberikan. Sebab itu, sampai saat ini dirinya belum bisa memutuskan. "Jangan ngomong sanksi dulu, tunggu penyelidikan," ujarnya.
Saat pemeriksaan, beberapa petugas dari Kepolisian Daerah Jawa Timur juga berada di ruangan Kepala Dinas Pendidikan. Mereka juga turut bertanya tentang kronologi kasus. "Masalah ini sudah sampai Jakarta," ucapnya.
Hingga saat ini Edi dan Zainul belum bisa dimintai keterangan. Ketika ditemui Tempo usai memenuhi panggilan Kepala Dinas tadi siang, mereka berdua hanya diam saja. Muka keduanya nampak kusut. Mereka tertunduk, lalu nyelonong pergi.
"Pak Edi dan Pak Zainul stres mas," kata Kepala Bidang Kurikulum Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Diknas Sidoarjo, Asiyari, yang berjalan di belakang keduanya.
Asiyari mengatakan, di hadapan Kepala Dinas Pendidikan Edi sempat hampir pingsan. Saat dicecar pertanyaan, dia langsung lemas. "Saya tidak menyangka bakal seperti ini," kata Asiyari menirukan Edi.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
"Kasih waktu saya satu hari. Besok akan segera saya naikkan ke penyidikan," ujarnya kepada Tempo, Kamis (29/10).
Penyelidikan dilakukan sejak Selasa kemarin. Tiga orang sudah dimintai keterangan. Mereka adalah orang tua murid, satu murid sekolah dasar, dan satu orang pegawai Dinas. Hanya saja, Setija enggan menyebut detail nama ketiga orang tersebut. "Saya belum bisa bilang, kan baru penyelidikan," ujarnya.
Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo, Agoes Boedi Tjahjono, membantah pemanggilan anak buahnya. Dia mengatakan, Dinas belum pernah dipanggil Polres. Hanya saja, kata dia, jika polres memang bermaksud memanggil pegawai Dinas, dia mengaku tidak keberatan. "Saya terbuka, kalau dipanggil pasti datang," tegasnya.
Agoes mengatakan sebenarnya dua orang pembuat naskah ujian Bahasa Indonesia sudah dipanggil. Dua orang itu adalah Edi, guru sekolah dasar di Kecamatan Jabon, dan Zainul, guru sekolah dasar di Kecamatan Prambon. Edi bertugas membuat soal ujian untuk kelas IV sampai VI, sementara Zainul bertugas membuat soal untuk kelas I sampai III.
Mereka berdua merupakan guru berprestasi. "Karena beban yang berat, soal yang dibuat seperti itu," ujarnya. "Mereka khilaf, mereka tidak sadar kasusnya akan seperti itu."
Menurutnya, tim pembuat naskah sebenarnya terdiri dari 12 guru. Dua guru bertugas membuat satu soal mata pelajaran. Berdasar keterangan Edi, tim pembuat naskah sempat dipanggil Dinas untuk mengikuti rapat persiapan ujian, satu minggu jelang UTS. Edi dan Zainul ditugasi membuat naskah Bahasa Indonesia dalam tempo satu minggu.
Rupanya, kata Agoes, Edi memiliki beban keluarga yang berat. Selain harus memikirkan pembuatan naskah dengan waktu mepet, dia juga harus memikirkan persiapan pernikahan anaknya yang akan digelar pada hari yang hampir bersamaan. Karena beban pikiranya terlalu tinggi, ia mengaku khilaf karena kurang teliti saat proses pembuatan naskah tersebut.
Terkait sanksi, Kepala Dinas Pendidikan yang baru menjabat selama sepuluh hari itu mengaku kebingungan dengan sanksi yang akan diberikan. Sebab itu, sampai saat ini dirinya belum bisa memutuskan. "Jangan ngomong sanksi dulu, tunggu penyelidikan," ujarnya.
Saat pemeriksaan, beberapa petugas dari Kepolisian Daerah Jawa Timur juga berada di ruangan Kepala Dinas Pendidikan. Mereka juga turut bertanya tentang kronologi kasus. "Masalah ini sudah sampai Jakarta," ucapnya.
Hingga saat ini Edi dan Zainul belum bisa dimintai keterangan. Ketika ditemui Tempo usai memenuhi panggilan Kepala Dinas tadi siang, mereka berdua hanya diam saja. Muka keduanya nampak kusut. Mereka tertunduk, lalu nyelonong pergi.
"Pak Edi dan Pak Zainul stres mas," kata Kepala Bidang Kurikulum Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Diknas Sidoarjo, Asiyari, yang berjalan di belakang keduanya.
Asiyari mengatakan, di hadapan Kepala Dinas Pendidikan Edi sempat hampir pingsan. Saat dicecar pertanyaan, dia langsung lemas. "Saya tidak menyangka bakal seperti ini," kata Asiyari menirukan Edi.
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Saturday, October 24, 2009
Metode mengajar bahasa Inggris kepada anak
Tanya
Metode atau cara apa yang ibu-ibu lakukan untuk mengajar anak (dibawah 2 th) bahasa Inggris? (FI)
Jawab
Aku mengajar anakku bahasa Inggris perlahan-lahan. Sederhana saja, mulai ada kalimat yang paling sederhana, misalnya: no-tidak boleh, yes you can-boleh. Atau mengenal lingkungan seperti: daun-leaf, mobil-car, papa-daddy, bunda-mom, sakit-sick, demam-fever. Kalau kalimat panjang, umumnya si kecil belum menangkap secara jelas. Paling sepatah dua patah kata yang dimengerti. Yang paling ajaib dan kurasa cukup cepat prosesnya, aku sering dimintain anakku untuk memutar VCD Children Songs. (Do)
Kalau aku pakai metode sealamiah kita mengajar anak bicara bahasa Indonesia. Jadi khusus sama aku dia omong bahasa Inggris. Aku juga mix dengan metode flash card untuk menambah vocab. Setiap hari 5 vocab selama 1 minggu, minggu berikutnya 5 vocab lagi, demikian seterusnya. Terus aku juga mengarang simple conversation, terdiri dari 3-4 kalimat sederhana, misalnya: what is your name? how old are you? what are you? where do you live?. Meskipun kalau ditanya dia tidak jawab lengkap, tapi dia sudah mengerti kalau ditanya di atas jawabnya apa. Dan, kebetulan di rumahku beberapa sebulan sekali ada tamu dari Australia, jadi kalau ditanya, anakku yang pertama sudah bisa jawab, meskipun tidak lengkap. Buku bahasa Inggris simple juga banyak membantu, kita baca biasa supaya dia pendengaran dia terbiasa dengan pronouncation. Dengan begitu di dalam otaknya sudah terbentuk neuro-pathway bahasa, yang nantinya pada usia sekolah bila dia mendapat grammar tidak terlalu susah dibandingkan anak yang tidak pernah mendengar foreign language sebelumnya. (Ir)
Kalau anakku keseringan aku pasangkan lagu-lagu Beatles, suatu saat aku dengar dia nyanyi-nyanyi kecil (Fe)
Menurut yang pernah aku baca, saat yang paling tepat mengajarkan anak bahasa lain selain Indonesia adalah pada saat usia 3 tahun. Karena diusia tersebut diharapkan si anak sudah fasih dengan bahasa kita (Indonesia). Dan salah satu cara yang mudah adalah dengan membagi tugas antara si ayah dan ibu. Misalnya ngomong Indonesia dengan ibu, dan ngomong Inggris dengan Ayah. Lalu juga bikin pengulangan kalimat dalam 2 bahasa. Contohnya kalau menyuruh anak melepas sepatu dalam bahasa Indonesia, setelah itu ulang kalimatnya dengan bahasa Inggris (take off your shoes please). (Ve)
Anak-anak itu paling cepat banget kalau diajarin sesuatu yang baru. apalagi usia 3 - 6 tahun itu masa emas anak untuk menyesuaikan diri dengan bahasa orang di sekelilingnya, daya ingatnya lebih peka. Aku sebenarnya sedih dengar di indonesia acara barney dan acara anak lainnya yang berisi lagu lagu pake acara di dubbing segala. Sebab barney yang aslinya pake bahasa inggris itu lagunya enak dan lebih pas kalau tidak didubbing. Lagi pula banyak syair yang lucu untuk anak kalau di lagukan, sekalian mengenalkan mereka bahasa inggris. Anakku banyak belajar bahasa inggris dari acara barney, dora, bob the builder dll. (Th)
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Metode atau cara apa yang ibu-ibu lakukan untuk mengajar anak (dibawah 2 th) bahasa Inggris? (FI)
Jawab
Aku mengajar anakku bahasa Inggris perlahan-lahan. Sederhana saja, mulai ada kalimat yang paling sederhana, misalnya: no-tidak boleh, yes you can-boleh. Atau mengenal lingkungan seperti: daun-leaf, mobil-car, papa-daddy, bunda-mom, sakit-sick, demam-fever. Kalau kalimat panjang, umumnya si kecil belum menangkap secara jelas. Paling sepatah dua patah kata yang dimengerti. Yang paling ajaib dan kurasa cukup cepat prosesnya, aku sering dimintain anakku untuk memutar VCD Children Songs. (Do)
Kalau aku pakai metode sealamiah kita mengajar anak bicara bahasa Indonesia. Jadi khusus sama aku dia omong bahasa Inggris. Aku juga mix dengan metode flash card untuk menambah vocab. Setiap hari 5 vocab selama 1 minggu, minggu berikutnya 5 vocab lagi, demikian seterusnya. Terus aku juga mengarang simple conversation, terdiri dari 3-4 kalimat sederhana, misalnya: what is your name? how old are you? what are you? where do you live?. Meskipun kalau ditanya dia tidak jawab lengkap, tapi dia sudah mengerti kalau ditanya di atas jawabnya apa. Dan, kebetulan di rumahku beberapa sebulan sekali ada tamu dari Australia, jadi kalau ditanya, anakku yang pertama sudah bisa jawab, meskipun tidak lengkap. Buku bahasa Inggris simple juga banyak membantu, kita baca biasa supaya dia pendengaran dia terbiasa dengan pronouncation. Dengan begitu di dalam otaknya sudah terbentuk neuro-pathway bahasa, yang nantinya pada usia sekolah bila dia mendapat grammar tidak terlalu susah dibandingkan anak yang tidak pernah mendengar foreign language sebelumnya. (Ir)
Kalau anakku keseringan aku pasangkan lagu-lagu Beatles, suatu saat aku dengar dia nyanyi-nyanyi kecil (Fe)
Menurut yang pernah aku baca, saat yang paling tepat mengajarkan anak bahasa lain selain Indonesia adalah pada saat usia 3 tahun. Karena diusia tersebut diharapkan si anak sudah fasih dengan bahasa kita (Indonesia). Dan salah satu cara yang mudah adalah dengan membagi tugas antara si ayah dan ibu. Misalnya ngomong Indonesia dengan ibu, dan ngomong Inggris dengan Ayah. Lalu juga bikin pengulangan kalimat dalam 2 bahasa. Contohnya kalau menyuruh anak melepas sepatu dalam bahasa Indonesia, setelah itu ulang kalimatnya dengan bahasa Inggris (take off your shoes please). (Ve)
Anak-anak itu paling cepat banget kalau diajarin sesuatu yang baru. apalagi usia 3 - 6 tahun itu masa emas anak untuk menyesuaikan diri dengan bahasa orang di sekelilingnya, daya ingatnya lebih peka. Aku sebenarnya sedih dengar di indonesia acara barney dan acara anak lainnya yang berisi lagu lagu pake acara di dubbing segala. Sebab barney yang aslinya pake bahasa inggris itu lagunya enak dan lebih pas kalau tidak didubbing. Lagi pula banyak syair yang lucu untuk anak kalau di lagukan, sekalian mengenalkan mereka bahasa inggris. Anakku banyak belajar bahasa inggris dari acara barney, dora, bob the builder dll. (Th)
Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO
Subscribe to:
Comments (Atom)

