Tuesday, November 3, 2009

Dampak Negatif dari Perilaku Guru Ringan Tangan


Guru berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu gu = kegelapan dan ru = menghilangkan, sehingga kata ‘’guru’’ memiliki arti menghilangkan kegelapan.

Arti lain yang sering kita dengar di Jawa adalah digugu lan ditiru. Suatu arti yang sangat membanggakan tentunya, di samping predikat yang sangat mulia, yaitu pahlawan tanpa tanda jasa.

Namun, saya menjadi sedih saat membaca kesan yang disimpulkan dari hasil pemberitaan media massa bahwa guru zaman kini adalah guru ringan tangan dalam pengertian negatif sebagaimana yang dimuat Harian Suara Merdeka edisi Senin 19 Oktober 2009.

Hal ini bisa jadi nyata, karena memang ada guru yang seperti itu.

Prof. Dr. Said Hamid Hasan, pengamat pendidikan dari UPI Bandung berpendapat, dampak negatif dalam dunia pendidikan seringkali tidak seketika atau langsung bisa dilihat orang lain atau dirasakan yang bersangkutan. Seringkali terasakan pada waktu lama setelah suatu kejadian.



Wacana
03 Nopember 2009
Surat Pembaca
Dampak Negatif dari Perilaku Guru Ringan Tangan
Guru berasal dari Bahasa Sansekerta, yaitu gu = kegelapan dan ru = menghilangkan, sehingga kata ‘’guru’’ memiliki arti menghilangkan kegelapan.

Arti lain yang sering kita dengar di Jawa adalah digugu lan ditiru. Suatu arti yang sangat membanggakan tentunya, di samping predikat yang sangat mulia, yaitu pahlawan tanpa tanda jasa.

Namun, saya menjadi sedih saat membaca kesan yang disimpulkan dari hasil pemberitaan media massa bahwa guru zaman kini adalah guru ringan tangan dalam pengertian negatif sebagaimana yang dimuat Harian Suara Merdeka edisi Senin 19 Oktober 2009.

Hal ini bisa jadi nyata, karena memang ada guru yang seperti itu.

Prof. Dr. Said Hamid Hasan, pengamat pendidikan dari UPI Bandung berpendapat, dampak negatif dalam dunia pendidikan seringkali tidak seketika atau langsung bisa dilihat orang lain atau dirasakan yang bersangkutan. Seringkali terasakan pada waktu lama setelah suatu kejadian.

Saya pernah mengalaminya ketika di SMA atas perlakuan negatif seorang guru melalui perkataan yang bernada merendahkan siswa. Saya merasakan serik setelah selang waktu 20 tahun manakala beliau menjadi teman seprofesi dan masih suka mengucapkan perkataan tersebut.

Menyadari bahwa saya juga telah menjadi guru, maka perasaan serik itu saya kendalikan agar tidak menjadi sakit hati.

Bahkan menjadi suatu perenungan bagi saya bahwa setiap guru berpeluang bersikap yang berdampak negatif pada siswa.

Hal ini perlu disadari oleh setiap guru, sehingga dapat mengelola hati karena guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga keimanan.

Mereka mampu mengaplikasikan arti dari kata guru, walau bagai lilin kecil. Tetapi tidak berhenti pada guru, setiap siswa juga harus berusaha mengendalikan diri dan tekun belajar serta memanfaatkan fasilitas yang ada dengan baik.

Saat ini seringkali tercatat siswa dari keluarga kurang mampu tetapi memiliki Hp mahal. Demikian juga orang tua tidak hanya sibuk bekerja tetapi harus memberi kasih sayang dan perhatian pada anak agar terbentuk generasi yang kokoh.



Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

0 komentar:

Post a Comment